Sabtu, 08 November 2014

SELAMAT BEKERJA MENTERI BARU…….

Sudirman Said: Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Kabinet Jokowi JK 2014-2019



Sudirman Said terpilih menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Kabinet Kerja Jokowi JK 2014-2019. Pria yang dikenal sebagai tokoh anti korupsi ini menjadi salah satu menteri yang akan turut bekerja di kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Berikut ini profil dan biodata Sudirman Said.
Lahir di Brebes, Jawa Tengah, pada tanggal 16 April 1963, Sudirman Said cukup matang di ranah pertambangan. Karirnya sebagai pekerja rehabilitasi kawasan bencana, eksekutif di industri minyak dan gas, serta direktur utama perusahaan senjata nasional, membuat Jokowi jatuh hati pada tokoh berusia 51 tahun ini dan menunjuk Sudirman Said sebagai Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral RI.
Sudirman Said merupakan alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) lulusan 1990 di mana kini ia menjabat sebagai Ketua Umum Ikanas Keuangan-STAN untuk periode 2013-2016. Untuk gelar master di Bidang Administrasi Bisnis, Sudirman Said memperolehnya dari George Washington University, Washington DC, Amerika Serikat, pada tahun 1994.
Citra sebagai tokoh anti korupsi telah melekat pada dirinya. Sudirman Said adalah salah seorang pendiri Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) dan Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG). Ia juga pernah ditunjuk sebagai penanggung jawab sementara Rektor Universitas Paramadina ketika Nurcholish Madjid (Cak Nur, Alm.) terbaring karena sakit.
Karir Sudirman Said di bidang energi dan sumberdaya mineral pun cukup mentereng. Ia pernah dipercaya sebagai Staf Ahli Direktur Utama PT Pertamina, Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Pertamina, hingga Koordinator Restrukturisasi Aset dan Anak Usaha Pertamina.
Ia juga sempat menjabat sebagai Direktur Human Capital PT Petrosea Tbk dan Wakil Direktur Utama PT Petrosea, lalu Direktur Utama PT Pindad yang bergerak di bidang persenjataan atas rekomendasi Menteri BUMN saat itu, Dahlan Iskan. Sudirman Said pernah pula menjadi Executive Director APEC CEO Summit 2013 yang digelar pada 1-8 Oktober 2013 di Bali.

Transparansi
Add caption
Harapan transparansi pengelolaan ESDM tidaklah terlalu berlebihan. Sudirman memang dikenal sebagai aktivis transparansi dan pengawasan.

Sudirman adalah pendiri dan kini masih menjadi anggota Dewan Pengawas Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI).

Lalu, saat menjabat menjadi Deputi Kepala BRR Aceh-Nias, ia melakukan terobosan dalam transparansi dan pengawasan dana bantuan. Sudirman membentuk Satuan Anti Korupsi (SAK) yang bertugas mendidik semua pemangku kepentingan di Aceh dan Nias pascatsunami.

Kemudian, saat menjabat Kepala ISC Pertamina, Sudirman sempat menyedot perhatian publik.  ISC didirikan Pertamina saat dipimpin Dirut Ari Soemarno pada September 2008 dan Oktober 2009, Sudirman ditunjuk sebagai Kepala ISC.

Saat itu, Ari Soemarno mengatakan, ISC merupakan upaya transformasi pengadaan minyak dan BBM. ISC digadang-gadang sebagai jembatan Pertamina menjadi perusahaan minyak nasional kelas dunia.

Dengan ISC, maka fungsi pengadaan minyak dan BBM yang sebelumnya terpisah di Direktorat Pengolahan dan Direktorat Pemasaran dan Niaga bisa diintegrasikan, sehingga diharapkan lebih efisien.

Namun, keberadaan ISC tersebut disorot sejumlah kalangan termasuk DPR melalui Pansus Angket BBM, karena dinilai tidak efektif. Sudirman pun tidak lama menjabat Kepala ISC.Hanya lima bulan, pada Maret 2009, dia digeser dari jabatannya tersebut.

Pascapenggantian Sudirman, Pertamina merombak fungsi ISC menjadi penyusun strategi atau semacam "think tank" pemasaran. Pengalihan tersebut sesuai arahan Dewan Komisaris Pertamina.
Selain masih aktif di MTI, Sudirman merupakan Anggota Komite Independen Reformasi Birokrasi Nasional. Dengan berbagai pengalaman tersebut, Sudirman diharapkan membawa transparansi pengelolaan sektor ESDM ke depan.

Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan kabinet, respons publik agar Kabinet Kerja segera merealisasikan tugasnya terus bermunculan. Harapan publik kepada pemerintah harus direalisasikan demi mengatasi permasalahan yang ada, salah satunya di sektor kelistrikan.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman menjelaskan, salah satu tugas berat yang harus diatasi Menteri ESDM Sudirman Said dalam lima tahun ke depan adalah menangani ancaman krisis listrik.
“Kalau dilihat dari sektor listrik, tentunya apa yang sudah ada dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) maupun kebijakannya harus diimplemntasikan secara tepat waktu sehingga krisis listrik akan teratasi,” ungkap Jarman di Jakarta,seperti dikutip dalam MigasReview.co, Selasa (28/10).
Jarman khawatir, bila dalam lima tahun ke depan pemerintah lambat menangani bahaya ancaman krisis listrik, masalah akan makin kompleks mengingat kebutuhan listrik dari tahun ke tahun tumbuh 7%.(wy/mr).

0 komentar:

Posting Komentar