SELAMAT BEKERJA MENTERI BARU…….
Sudirman Said: Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Kabinet Jokowi JK 2014-2019

Sudirman Said terpilih
menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Kabinet Kerja Jokowi JK
2014-2019. Pria yang dikenal
sebagai tokoh anti korupsi ini menjadi salah satu menteri yang akan turut
bekerja di kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf
Kalla. Berikut ini profil dan biodata Sudirman Said.
Lahir di Brebes, Jawa Tengah, pada tanggal 16 April 1963, Sudirman
Said cukup matang di ranah pertambangan. Karirnya sebagai pekerja rehabilitasi
kawasan bencana, eksekutif di industri minyak dan gas, serta direktur utama
perusahaan senjata nasional, membuat Jokowi jatuh hati pada tokoh berusia 51 tahun
ini dan menunjuk Sudirman Said sebagai Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral
RI.
Sudirman Said merupakan alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
(STAN) lulusan 1990 di mana kini ia menjabat sebagai Ketua Umum Ikanas
Keuangan-STAN untuk periode 2013-2016. Untuk gelar master di Bidang
Administrasi Bisnis, Sudirman Said memperolehnya dari George Washington
University, Washington DC, Amerika Serikat, pada tahun 1994.
Citra sebagai tokoh anti korupsi telah melekat pada dirinya.
Sudirman Said adalah salah seorang pendiri Masyarakat Transparansi Indonesia
(MTI) dan Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG). Ia juga pernah
ditunjuk sebagai penanggung jawab sementara Rektor Universitas Paramadina
ketika Nurcholish Madjid (Cak Nur, Alm.) terbaring karena sakit.
Karir Sudirman Said di bidang energi dan sumberdaya mineral pun
cukup mentereng. Ia pernah dipercaya sebagai Staf Ahli Direktur Utama PT
Pertamina, Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Pertamina, hingga Koordinator
Restrukturisasi Aset dan Anak Usaha Pertamina.
Ia juga sempat menjabat sebagai Direktur Human Capital PT Petrosea
Tbk dan Wakil Direktur Utama PT Petrosea, lalu Direktur Utama PT Pindad yang
bergerak di bidang persenjataan atas rekomendasi Menteri BUMN saat itu, Dahlan
Iskan. Sudirman Said pernah pula menjadi Executive Director APEC CEO Summit
2013 yang digelar pada 1-8 Oktober 2013 di Bali.
| Add caption |
Harapan transparansi pengelolaan ESDM tidaklah terlalu berlebihan.
Sudirman memang dikenal sebagai aktivis transparansi dan pengawasan.
Sudirman adalah pendiri dan kini masih menjadi anggota Dewan
Pengawas Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI).
Lalu, saat menjabat menjadi Deputi Kepala BRR Aceh-Nias, ia
melakukan terobosan dalam transparansi dan pengawasan dana bantuan. Sudirman membentuk
Satuan Anti Korupsi (SAK) yang bertugas mendidik semua pemangku kepentingan di
Aceh dan Nias pascatsunami.
Kemudian, saat menjabat Kepala ISC Pertamina, Sudirman sempat
menyedot perhatian publik. ISC didirikan
Pertamina saat dipimpin Dirut Ari Soemarno pada September 2008 dan Oktober
2009, Sudirman ditunjuk sebagai Kepala ISC.
Saat itu, Ari Soemarno mengatakan, ISC merupakan upaya
transformasi pengadaan minyak dan BBM. ISC digadang-gadang sebagai jembatan
Pertamina menjadi perusahaan minyak nasional kelas dunia.
Dengan ISC, maka fungsi pengadaan minyak dan BBM yang sebelumnya
terpisah di Direktorat Pengolahan dan Direktorat Pemasaran dan Niaga bisa
diintegrasikan, sehingga diharapkan lebih efisien.
Namun, keberadaan ISC tersebut disorot sejumlah kalangan termasuk
DPR melalui Pansus Angket BBM, karena dinilai tidak efektif. Sudirman pun tidak
lama menjabat Kepala ISC.Hanya lima bulan, pada Maret 2009, dia digeser dari jabatannya
tersebut.
Pascapenggantian Sudirman, Pertamina merombak fungsi ISC menjadi
penyusun strategi atau semacam "think tank" pemasaran. Pengalihan
tersebut sesuai arahan Dewan Komisaris Pertamina.
Selain masih aktif di MTI, Sudirman merupakan Anggota Komite
Independen Reformasi Birokrasi Nasional. Dengan berbagai pengalaman tersebut,
Sudirman diharapkan membawa transparansi pengelolaan sektor ESDM ke depan.
Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan kabinet, respons publik agar Kabinet Kerja segera merealisasikan tugasnya terus bermunculan. Harapan publik kepada pemerintah harus direalisasikan demi mengatasi permasalahan yang ada, salah satunya di sektor kelistrikan.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman menjelaskan, salah satu tugas berat yang harus diatasi Menteri ESDM Sudirman Said dalam lima tahun ke depan adalah menangani ancaman krisis listrik.
Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan kabinet, respons publik agar Kabinet Kerja segera merealisasikan tugasnya terus bermunculan. Harapan publik kepada pemerintah harus direalisasikan demi mengatasi permasalahan yang ada, salah satunya di sektor kelistrikan.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman menjelaskan, salah satu tugas berat yang harus diatasi Menteri ESDM Sudirman Said dalam lima tahun ke depan adalah menangani ancaman krisis listrik.
“Kalau dilihat dari sektor listrik, tentunya
apa yang sudah ada dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) maupun
kebijakannya harus diimplemntasikan secara tepat waktu sehingga krisis listrik
akan teratasi,” ungkap Jarman di Jakarta,seperti dikutip dalam MigasReview.co,
Selasa (28/10).
Jarman khawatir, bila dalam lima tahun ke depan pemerintah lambat
menangani bahaya ancaman krisis listrik, masalah akan makin kompleks mengingat
kebutuhan listrik dari tahun ke tahun tumbuh 7%.(wy/mr).










